Assalammualaikum Selamat Datang di Bolg Ane

Jumat, 30 November 2012

ASKEP ASFEKSIA


A.    Definisi
Asfiksia merupakan suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis (Hidayat, 2005).
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998)
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat                 bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir ( Subianto,2009).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir ( idaanggrek.2005).
Asfiksia adalah perubahan patologis yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam udara pernapasan, yang mengakibatkan hipoksia dan hiperkapnia (Dorland, 2002)
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas brnapas secara spontan dan teratur setelah lahir (Wikenjosastro, Hanifa,2002 ).



B.     Klasifikasi
Klasifikasi asfiksia berdasarkan niloai APGAR
a.       “Vigorous baby” skor APGAR 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewanya.
b.      “Mild Moderat Asphyxia( asfiksia sedang). Skor APGAR 4-6 padapemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100x/mnt, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.       1. Skor apgar 1-3 pada pemeriksaan fisis ditemukan freuensi jantung kurang dari 100x/mnt, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, refleksitabilitas tidak ada.
2. asfiksia berat dengan henti  jantung dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan a). Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 mnt sebelum  lahir lengkap. b). Bunyi jantung bayi menghilang postpartum. Dalam hal ini pemeriksaan fisis lainnya sesuai dengan yang ditentukan pada penderita asfiksia berat.
                                                                                                            (FKUI,2002)

C.     Etiologi
Keadaan asfiksia terejadi karena kurangnya kemampuan fungsi organ bayi seperti pengembangan paru – paru.  Proses terjadinya asfiksia neonatorum ini dapat terjadi pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir.  Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
1.      Asfiksia dalam persalinan
a.       Kekurangan O2.
a)      Partus lama (KPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan. (Sujiyatini, 2009 : h 13).
Pada ketuban pecah dini bisa menyebabkan persalinan berlangsung lebih lama dari keadaan normal, dan dapat menyebabkan infeksi. Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya, bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Bahkan jika jumlah air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan berisiko asfiksia. (Wiknjosastro, 2007 ).
Pada Rigid serviks atau kekauan serviks juga dapat menyebabkan terjadinya partus lama karena jalan keluar janin terhambat/macet.
Pada Atonia uteri akan menyebabkan uterus dalam kondisi yang sangat lelah, sehingga otot-otot rahim tidak mampu melakukan kontraksi sehingga menggangu kemajuan persalinan.
b)      Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke uteri sehingga sulpai O2 ke janin berkurang.
c)      Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
d)     Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
e)      Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
f)       Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
g)      Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
b.      Paralisis pusat pernafasan
a)      Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps
Melahirkan dengan cara mencongkel sisi kepala bayi dengan alat yang disebut forceps. Pemakaian alat ini otomatis akan memperlebar jalan lahir, dan memperbanyak luka ahitan pada ibu serta menyebabkan trauma pada kepala bayi, sehingga dapat menyebabkan gangguan pada pusat penapasan (medulla oblongata)
b)      Trauma dari dalam : akibat obat bius.
Pemberian obat bius pada saat melahirkan, obat bius dapat masuk kejanin melalu plasenta sehingga dapat mengakibatkan paralisis pusat pernapasan.
Sedangkan menurut Towell(1966), asfiksia dapat dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1.      Faktor ibu
a.       Hipoksia ibu
Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya.
b.      Gangguan aliran darah uterus
Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada penyakit eklampsi.
2.      Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksis janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan plasenta, solusio plasenta.
3.      Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin.
4.      Faktor neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu
a.       Pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin
b.      Trauma yang terjadi saat persalinan misalnya perdarahan intra kranial,
c.       Kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernapasan, hipoplasia paru. (FKUI, 2001)

D.    Manifestasi
1.      Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
a.       Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
b.      Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
c.       Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
2.      Pada bayi setelah lahir
a.    Bayi pucat dan kebiru-biruan
b.    Usaha bernafas minimal atau tidak ada
c.    Hipoksia
d.   Asidosis metabolik atau respiratori
e.    Perubahan fungsi jantung
f.     Kegagalan sistem multiorgan
g.    Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik, kejang, nistagmus dan menangis kurang baik/tidak baik
h.     RR > 60x /menit atau < 30 x/menit
i.       Nafas megap-megap/gasping sampai terjadi henti nafas
j.       Bradikardia
k.      Tonus otot berkurang
l.       Warna kulit sianotik/pucat
m.  Apgar skor 1-3 atau 4-6 (Arif Mansjoer 2001).
Tanda hipoksia pada janin biasanya ditemukan beberapa menit sampai beberapa hari sebelum persalinan. IUGR/Intra Uterine Growth Restriction ( suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari usia kehamilannya) dengan naikan tahanan vaskuler mungkin merupakan pentunjuk pertama hipoksia janin. Frekuensi denyut jantung janin yang lambat dan variabilitas dari denyut kedenyut menurun,perekaman frekuensi jantung secara terus menerus dapat menunjukan pola perlambatan yang bervariasi atau terlambat dan analisa darah kulit kepala janin dapat menunjukan pH kurang dari 7.20. Asidosis terdiri  dari beberapa tingkat komponen metabolik atau respiratorik. Terutama pada bayi yang mendekati usia cukup bulan,tanda-tanda ini mengakibatkan pemberian oksigen kadar tinggi pada ibu dan melakukan persalinan segera untuk menghindarkan kematian janin (Nelson, 2000)

E.     Patofisiologi
Pernafasan spontan bayi baru lahir tergantung pada kondisi janin pada masa hamil dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan Asfiksia ringan yang bersifat sementara. Proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan akan terjadi usaha bernafas pertama (primary gasping) yang kemudian akan berlanjut pernafasan teratur. Sifat Asfiksia yang ringan ini tidak berpengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya.
Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau transportasi O2 selama kelahiran atau persalinan, maka terjadilah Asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh, kerusakan dan gangguan ini dapat membaik atau tidak, tergantung pada berat dan dalamnya Asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnea (berhenti bernafas), disertai dengan penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita Asfiksia berat usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya ada dalam periode apnea.
Pada tingkat ini di samping perlahannya frekuensi jantung ditemukan pula penurunan tekanan darah. Disamping itu ada perubahan klinis yang akan terjadi berupa gangguan metabolisme dan perubahan pertukaran gas oksigen (O2) mungkin hanya menimbulkan asidosis resfiratorik meningginya tekanan oksigen (O2) dalam darah dan bila gangguan berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme anaerobic yang kemudian dapat menyebabkan timbulnya asidosis metabolic, selanjutnya terjadi perubahan kardiovaskuler. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan yang terjadi dapat menimbulkan kematian atau kehidupan dengan gejala sisa (squele).
Mengenal dengan tepat perubahan-perubahan di atas sangat penting, karena hal itu merupakan manifestasi daripada tingkat Asfiksia. Tindakan yang dilakukan hanya akan dapat berhasil dengan baik bila perubahan yang terjadi dikoreksi secara adekuat. Dalam praktek, menentukan tingkat Asfiksia bayi dengan tepat membutuhkan pengalaman dan observasi klinik yang cukup. Menentukan beberapa kriteria klinik untuk menilai keadaan bayi baru lahir (Arif Mansjoer, 2001).

PathwayS silah kan klik dibawah ini:


H.    Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang mengarah pada pada diagnosa Asfiksia Neonatorum antara lain :
1.       Analisa gas darah
       pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik. PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi Asfiksia Neonatorum cenderung naik sering terjadi hiperapnea.  PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi Asfiksia Neonatorum cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif. HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
2.       Elektrolit darah
       Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi. Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct), Distrosfiks pada bayi preterm dengan Asfiksi Neonatorum cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi.
3.       Gula darah
4.       Baby gram (Rontgen dada)
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.
5.      USG (kepala) untuk mengetahui adanya ke abnormalan pada otak. (Nursalam. dkk. 2001).

I.       Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Keperawatan menurut Setiadi Sofyan (2001)
1.      Tindakan Umum
a.       Bersihkan jalan nafas
a)      Kepala bayi diletakkan lebih rendah agar lendir lebih mudah mengalir.
b)      Bersihkan lendir dan cairan ketuban dari rongga mulut dan farings.
c)      Bila perlu gunakan laringoskop untuk membantu pengisapan lendir dan saluran nafas lebih dalam.
b.      Rangsangan refleks pernafasan
a)      Melakukan bila setelah 20 detik bayi tidak memberi usaha bernafas.
b)      Jangan memukul di daerah punggung atau bokong.
c)      Bila gagal, anggap bayi tersebut menderita Asfiksia ringan-sedang
c.        Pertahankan suhu tubuh
a)       Tubuh bayi dibaringkan.
b)      Pemanasan menggunakan lampu pijar lebih dari pada penggunaan selimut yang menutupi bayi..
2.      Tindakan Medis
a.       Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan, langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten, cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.
b.      Asfiksia sedang
Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan, ventilasi aktif harus segera dilakukan, ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot, intubasi endotrakheal harus segera dilakukan, bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat(FKUI 2002).


J.       Komplikasi
Komplikasiyang muncul pada asfeksia neonatorum antara lain:
1.      Edema otak dan perdarahan otak pada penderita asfeksia dengan gangguan fungsi jantung yang terlalu berat sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga akan menimbulkan perdarahan otak.
2.      Anuria atau ologuria disfungsi miokardium pada penderita asfiksia,keadaan ini dikenal istilah disfungsi moikardium pada saat terjadi yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Hal ini yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
3.      Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabakan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
4.      Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.                                              (Saifudin,A.B.2001)
5.      Sepsis
Sepsis biasanya akan dimulai dengan adanya respon sistemik tubuh dengan gambaran proses inflamasi,koagulopati,gangguan fibrinolisis yang selnjutnya menimbulkan gangguan fungsi organ. Berlaianan pada pasien dewasa,pada bayi baru lahir terdapat berbagai tingkat defisiensi system pertahanan tubuh,sehingga respon sistemik pada janin dan bayi baru lahir akan berlainan dengan pasien dewasa sebagai contoh pada awitan dini respon sistemik pada bayi baru lahir mungkin terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan. ( Arif Mansjoer, 2001).

K.    Pengkajiaan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2001)
Dalam mengkaji harusmemperhatikan  data dasar. Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi:
1.      Fokus Pengkajian
a.       Identitas bayi dan orang tua
Umur (mulai 0 – 28 hari), jenis kelamin Perempuan,
b.      Riwayat kesehatan bayi dan orang tua
Keluhan utama: Hipoksia, RR > 60 x/mnt, nafas megap-megap/gasping sampai terjadi henti nafas, bradikardi, tonus otot berkurang, warna kulit sianotik/pucat.
c.       Observasi pernapasan terhadap:
a)      Frekuensi         : Cepat, normal, atau lambat untuk anak tentunya
b)      Kedalaman      : Normal, terlalu dangkal, terlalu dalam, biasanya diperkirakan dari amplitudo dangkal.
c)      Kemudahan     : Kurang upaya, sulit, ortopnea, dihubungkan dengan retaksi intercosta dan substernal
d)     Pernafasaan     : Sulit, kontinue, intermiten, menjadi makin buruk, dan menetap, awitan tiba-tiba
e)      Irama               : Variasi dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan
d.      Observasi adanya:
a)      Bukti infeksi   : peningkatan suhu tubuh, perbesaran kelenjar limfe servikal membran mukosa terinfeksi
b)      Batuk              : karakteristik batuk (bila ada) dalam keadaaan seperti batuk terdengar, sifat batuk, frekuensi batuk berhubungan dengan menelan
c)      Mengi              : Ekspirasi dan Inspirasi nada tinggi atau musikal memanjang, secara lambat
d)     Sianosis           : perhatikan distribusi (perifer, peroral, fasial) derajat berhubungan dengan aktifitas
e)      Nyeri dada      : mengkin merupakan keluhan anak yang paling besar, perhatikan lokasi dan situasi terlokalisir atau menyebar
f)       Sputum            : Anak-anak yang lebih besar dapat memberikan sempel sputum , perhatikan volume dan warnanya
g)      Pernafasan buruk        : dapat berhubungan dengan bebebrapa infeksi pernafasan (Donna. C Long. 2003)
Jangan lupa juga mengkaji:
a.    Sirkulasi
a)      Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg(Sistolik) 40 sampai 45 mmHg (Diastolik)
b)      Manghitung nadi serta RR bayi
c)      Melihat ekstermitas bayi/ akral bayi
d)     Mengkaji adanya perdarahan saat melahirkan
e)      Bunyi jantung, lokasi di mediastrenum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV
f)       Murmur biasanya terjadi selama beberapa jam pertama kehidupan
g)      Tali pusat putih dan bergelatin mengandung 2 artheri dan 1 vena
b.        Makanan dan cairan
a)      Mengetahui umur bayi
b)      Diet yang diberikan pada bayi asfeksia
c)      Berat badan asfeksia
d)      Memantau adanya muntah, residu apa tidak pada bayi asfiksia
e)      Pemberian PASI lewat NGT atau Oral
c.       Neurosensori
a)      Tonus otot :fleksi hipertonik dari semua ekstermitas
b)      Sabar dan aktif mendesmotrasikan reflek menghisap selam 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas), penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
c)      Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemia atau efek narkotik yang memanjang)
d.      Pernapasan
a)      Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik torak: kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
b)      Adanya pernafasan spontan apa tidak
c)      Pemakaian O2 dalam bentuk apa
d)     Keadaan ketuban pada keluar
e)      Keadaan bayi saat ini
f)       Hasil analisa gas darah
e.       Keamanan
a)      Suhu rentang dari 36,5 C, ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi)
b)      Kulit : lembut, fleksibel,  pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau memerah, mungkin belang-belang menunjuk memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie, pada kepala/wajah (dapat menunjukkan penigkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal) bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat, abrasi kulit kepala mungkin ada.
f.       Eliminasi
a)      Berapa kali bayi dengan asfiksia BAK nya per hari
b)      Apakah mengunakan alat bantu apa tidak
c)      BAB nya berapa kali per hari
2.      Pemeriksaan Fisik pada Asfeksia
a.       Penampilan umum : bayi mungkin bebaring dengan anggota gerak yang mungkin tidak bergerak sama sekali karena energi yang dimiliki dihemat dan dipusatkan untuk pernapasan yang sulit, tonus aktif maupun pasif dan sikap yang tidak lazim harus dicatat.
b.      Kulit
Ketidakstabilan vasomotor dan kelambatan sirkulasi perifer diungkapkan oleh kemerahan pembentukan bintik-bintik pada tubuh (MOTTLING) bayi disebabkan oleh adanya ketidakstabilan peredaran darah, sianosis dapat diselubungi oleh kepucatan akibat kegagalan pembuluh darah, kepucatan dapat menggambarkan adanya asfeksia perfusi O2 ke jaringan berkurang.

c.       Hidung
Memperhatikan adanya lendir dilubang hidug yang sempit
d.      Kepala
Tengkorak memungkin mengalami “moulase” terutama bila bayi merupakan anak pertama dan jika kepala bayi mengalami halangan dalam waktu yang cukup lama. Tulang parietal cenderung menutupi (overlap) tulang oksipital dan frontal. Kepala bayi yang dilahirkan melalui section sesar atau dari letak sungsang dapat dikenali dari bentuknya yang bulat.
e.       Kuku
Pada bayi yang prematur bersifat rudimeter sebaliknya akan melampaui batas pada bayi post matur. Pada bayi asfeksia warna kuku merupakan indikator penentuan sianosis pada bayi normal kuku bayi berwarna kemerahan sedangkan pada bayi prematur kuku akan tampak kebiruan sebagai akibat dari perfusi jaringan yang kurang.
f.       Pemeriksaan jantung, pernapasan, dan neuromuskuler
Secara umum asfeksia , patokan klinis yang dinilai adalah
a)      Menghitung frekuensi jantung
b)      Melihat usaha bernafas
c)      Menilai tonus otot
d)     Menilai reflek rangsangan
e)      Memperhatikan warna kulit
Skor Apgar yang biasanya dinilai satu menit setalah bayi lahir lengkap yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah dilakukan penghisapan lendir untuk menetukan tingkat asfeksia berat, sedang atau ringan/normal dapat dipakai penilaian apgar skor. Dibawah ini tabel untuk menentukan apakah bayi asfeksia atau tidak:
TANDA
0
1
2
Frekuensi jantung
Tidak ada
<100 x/menit
>100 x/menit
Usaha nafas
Tidak ada
Lambat tidak teratur
Menangis  kuat
Tonus otot
Lumpuh
Exstermitas fleksi
Gerakan aktif
Reflek
Tidak ada
Gerakan sedikit
Gerakan kuat/ melawan
Warna
Biru/pucat
Tubuh kemerahan ekstermitas biru
Seluruh tubuh kemerahan
Ket: 0-3 : asfeksia berat, 4-7: asfeksia sedang , 7-10 : Normal. Pemantauan : bila skor Apgar 5 menit kurang dari 7, penilaian dilanjutkan setiap 5 menit, sampai mencapai skor 7. (Arif Mansjoer. 2001)

L.     Diagnosa
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak
2.      Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
3.      Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
4.      Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan sianosis
5.      Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius
6.      Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
7.      Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga (Doegues M. 2003)

M.   Intervensi
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, bersihan jalan nafas kembali efektif.
Dengan kriteria hasil :
                                         a.      Tidak menunjukkan demam
                                        b.      Rata-rata repirasi dalam batas normal
                                         c.      Pengeluaran sputum melalui jalan nafas
                                        d.      Mudah dalam bernafas.
                                         e.      Tidak adanya sianosis.
                                         f.      PaCO2 dalam batas normal.
                                        g.      PaO2 dalam batas normal.
Intervensi:
1)      Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
Rasional: Untuk memungkinkan reoksigenasi.
2)      Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction.
Rasional: Pernapasan bising, ronki dan mengi menunjukkan tertahannya secret.
3)      Beritahu keluarga tentang suction.
Rasional: Membantu memberikan informasi yang benar pada keluarga.
4)      Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi.
5)      Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction
Rasional:Membantu untuk mengidentifikasi perbedaan status oksigen sebelum dan sesudah suction.

2.      Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif
Kriteria hasil :
a.       Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif
b.      Ekspansi dada simetris
c.       Tidak ada bunyi nafas tambahan
d.      Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal
Intervensi:
1)      Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender
Rasional: Untuk menghilangkan mucus yang terakumulasi dari nasofaring, tracea.
2)      Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi
Rasional: Bunyi nafas menurun/tak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder. Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.
3)      Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
Rasional: Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.

3.      Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi
Kriteria hasil :
a.       Tidak sesak nafas
b.      Fungsi paru dalam batas normal
Intervensi:
1)      Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum
Rasional: Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Ronki, mengi menunjukkan akumulasi secret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan peningkatan kerja pernafasan.
2)      Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
Rasional: Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program terapi.
3)      Berikan oksigen tambahan yang sesuai.
Rasional: Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru.
4.      Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipoksia jaringan perifer.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan tidak trjadi hipoksia
Kreteria hasil:
                                    a.      Tidak sesak nafas
                                    b.      Fungsi paru dalam batas normal
Intervensi:
1)      Kaji bunyi paru, frekuensi nafas dan produksi sputum
Rasional: mengetahui jika ada kelainan
2)      Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
Rasional: mengetahui adanya sianosis
3)      Pantau hasil analisa darah
Rasional: untuk mengetahui adanya asidosis
5.      Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah
Kriteria hasil :
a.       Bebas dari cidera/ komplikasi
b.      Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak
c.       Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama
Intervensi:
1)      Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi
Rasional: Mengurangi kontaminasi silang.
2)      Pakai sarung tangan steril
Rasional: Mencegah penyebaran infeksi/kontaminasi silang.
3)      Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan adanya anomaly
Rasional: Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada bayi.
4)      Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan
Rasional: Membantu keluarga untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang benar tentang tanda dan gejala infeksi begitu juga dengan penanganan yang benar.
5)      Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
Rasional: Membantu memberi kekebalan anak terhadap agen infeksi.

6.      Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal
Kriteria hasil :
a.       Temperatur badan dalam batas normal
b.      Tidak terjadi distress pernafasan
c.       Tidak gelisah
d.      Perubahan warna kulit
e.       Bilirubin dalam batas normal
Intervensi:
1)      Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
Rasional: Menghindari terjadinya hipitermia.
2)      Monitor temperatur dan warna kulit.
Rasional: Mengetahui terjadinya hipotermi.
3)      Monitor TTV.
Rasional: Perubahan tanda-tanda vital yang signifikan akan mempengaruhi proses regulasi ataupun metabolisme dalam tubuh.
4)      Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
Rasional: Menghindari terjadinya hipitermia.
5)      Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.
Rasional:Mambantu BBL tetap berada pada keadaan yang sesuai dengan keadaannya.
7.      Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat
Kriteria Hasil :
a.       Percaya dapat mengatasi masalah.
b.      Kestabilan prioritas.
c.       Mempunyai rencana darurat.
d.      Mengatur ulang cara perawatan.
e.       Status kekebalan anggota keluarga
Intervensi:
1)      Buat hubungan dan akui kesulitan situasi pada keluarga.
Rasional: Mambantu orang terdekat untuk menerima apa yang terjadi dan berkeinginan untuk membagi masalah dengan staf.
2)      Tentukan pengetahuan akan situasi sekarang.
Rasional: Sediakan informasi untuk memulai perencanaan perawatan dan membuat keputusan. Kurangnya informasi dapat mengganggu respons pemberi/penerima asuhan terhadap situasi penyakit.
3)      Ikutsertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan masalah dan perawatan pasien sesuai kemungkinan.
Rasional:Informasi dapat mengurangi perasaan tanpa harapan dan tidak berguna. Keikutsertaan dalam perawatan akan meningkatkan perasaan kontrol dan harga diri (Doenges Maryline.2003).









Daftar Pustaka


Nursalam. dkk. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan  bidan). Salemba Medika: Jakarta

Doengoes. M.E. (2003). Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta

Dorland. (2002). Kamus Saku Kedokteran. Edisi 25. EGC. Jakarta

Hidayat. A.A.A. (2005).  Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Salemba Media. Jakarta

Markum. A.H. (2002).  Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. FKUI. Jakarta

Nelson. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta

Arif. M. (2000).  Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. FKUI. Jakarta


27 komentar:

  1. The best articles that contain a lot of interesting information are important. Hope in the future hopefully there are other important information that is shared again by this link. Thank you for your willingness to share this useful information. May always successful!

    http://obathepatitisalamiabc.walatrasehatmataasli.com
    http://obathepatitisalamiabc.walatrasehatmataasli.com/gejala-hepatitis-yang-sering-timbul

    BalasHapus

  2. It's great today to get more useful and interesting information
    Bahaya Kanker Hati Stadium Akhir

    BalasHapus
  3. Congratulations reactivities ,, highly awaited new information from this site
    Good luck !!

    obat kista bartholin tradisional
    ciri ciri gendang telinga robek
    obat tradisional miom

    BalasHapus
  4. Thank you for your cooperation, hopefully it can pay off.
    Biaya Operasi Tumor Rahang

    BalasHapus
  5. semoga bermanfaat, kami hanya memberikan saran pengobatan yang bisa Anda coba demi mencapai kesembuhan. Obat Kanker Testis Tanpa Operasi

    BalasHapus
  6. Do you like fishing for catfish? visit our website at:

    Essen Ikan Patin Galatama Jitu

    BalasHapus
  7. Thank you for the information you convey is very useful.

    Umpan Ikan Patin Kolam Air Keruh

    BalasHapus
  8. Your article is very impressive. Also visit our website.

    Umpan Jitu Ikan Mas Rame

    BalasHapus
  9. thank you for the information you convey is very useful.

    Teknik Mancing Ikan Mas Yang Tepat

    BalasHapus
  10. The article that you created is very helpful. Also visit our website.

    Resep Umpan Ikan Bawal Malam Hari

    BalasHapus
  11. The information you convey is very helpful, especially for those who need it. Thanks

    Oplosan Essen Ikan Lele Babon Galatama

    BalasHapus